Selasa, 12 November 2013

Test SurgePada Motor Induksi

       Tes Surge adalah pengukuran yang dilakukan untuk mengetahui baik tidaknya kondisi isolasi winding, yaitu dengan cara membandingkan bentuk gelombang yang dihasilkan. Pengujian perbandingan gelombang ini didasarkan pada prinsip bahwa bentuk gelombang pada winding stator yang baik, untuk ketiga fasanya adalah sama dengan rotor yang tidak terpasang. Pengukuran ini untuk mendeteksi isolasi antara turn to turn, coil to coil, dan phase to phase yang tidak dapat ditemukan oleh pengukuran dengan metode lain. Dilakukan dengan cara mengalirkan tegangan secara singkat pada gulungan yang akan diukur dan kemudian ditampilkan pada layar tes surge. Jika antar dua gulungan memiliki isolasi yang baik, maka bentuk gelombang yang tertampil adalah identik. Alat ukur surge ditunjukkan pada gambar berikut :
(Gambar Alat Surge Test)

Alat tes surge memiliki 4 buah probe, probe 1, 2, 3 (warna merah) yaitu sebagai sumber tegangan yang akan dialirkan, masing-masing terhubung dengan gulungan dan probe 4 (warna hitam) yaitu sebagai ground, terhubung dengan body motor. Tegangan yang akan dialirkan menurut Standar EASE (Electrical Apparatus Service Asseciation) yaitu sebesar,
           
Tegangan pengukuran             =          UN x 1,5
Keterangan :
UN  = Tegangan Nominal

Tes Tahanan Isolasi Motor Induksi

Tes Tahanan Isolasi adalah pengukuran yang dilakukan untuk mengetahui baik atau tidaknya isolasi pada sebuah konduktor. Isolasi yang baik diperlukan untuk menghindari terjadinya direct contact seperti short circuit atau ground fault. Buruknya isolasi jaringan bisa mengakibatkan terjadinya arus bocor dan dimungkinkan juga akan menimbulkan percikan api yang bisa mengakibatkan terbakarnya winding. Pengukuran ini biasanya dilakukan antar winding ( U-V, U-W, V-W ) dan winding dengan ground atau body ( U-Gnd, V-Gnd, W-Gnd ) pada pengukuran ini menggunakan alat yang dinamakan megger, seperti yang ditunjukkan pada gambar  berikut ini.



   Megger digunakan untuk mengukur tahanan isolasi pada motor tegangan rendah maupun tegangan tinggi. Sebelum melakukan pengukuran, motor yang diukur harus bebas tegangan, karena jika masih tersisa tegangan akan berpengaruh pada hasil pengukuran.
            Pengetesan dilakukan dengan pengukuran tingkat kebocoran antar fasa  dan fasa dengan ground. Sebelum melakukan pengetesan terlebih dahulu dilakukan pemutusan hubungan antara motor dengan sumber tegangan. Metode pengetesan bisa dilakukan dengan tegangan yang berbeda sesuai dengan kebutuhan yaitu sesuai dengan tegangan kerja motor.
            Standar pengukuran yang digunakan adalah standar EASA ( Electrical Apparatus Service Association ). Untuk motor dengan tegangan rendah standar besarnya tahanan isolasi dapat diketahui dengan rumus  berikut :

Keterangan :
Ø  Tegangan nominal dalam satuan  Volt
Ø  Besarnya tahanan isolasi dinyatakan dalam MW

CARA MENENTUKAN SPESIFIKASI MOTOR INDUKSI


Untuk memilih motor yang akan digunakan, maka perlu untuk mengetahui macam, karakteristik, dan persyaratan mesin beban yang memenuhi standard yang telah ditentukan. Hal ini dapat mencegah gangguan / maintenance dari motor induksi itu sendiri.
Mengenai mesin beban, factor-faktor berikut perlu untuk diperhatikan :
1.      Macam mesin beban dengan memperhatikan dinamikanya
2.      Karakteristik perputaran kopel beban
3.      Waktu Penggunaan mesin (kontinyu, sesaat, berubah-ubah bebannya, terus-menerus, dll)
4.      Frekuensi pengasutan
5.      Momen inersia beban
6.      Daya yang diperlukan untuk menjalankan beban
7.      Cara pengereman
8.      Apakah perlu pembalikkan putaran motor
9.      Voltage Motor

10.  Arus nominal motor

KEJUTAN LISTRIK


Kejutan Listrik merupakan gejala terjadinya aliran arus listrik melalui tubuh dengan magnitude tertentu yang dapat memberikan efek-efek yang membahayakan/ mencederai.
Efek Kejutan Listrik terhadap tubuh manusia :
1.      1 mA – 2 mA              : Masih dapat ditahan, tidak mencederai
2.      5 mA – 10 mA            : Terpental dan ada rasa sakit
3.      11 mA – 15 mA          : Kontraksi otot
4.      20 mA – 30 mA          : Pernafasan melemah
5.      50 mA – Till End        : Detak jantung yang cepat dan tak beraturan, serta dapat menyebabkan kematian.

A.    Kontak Langsung
Menyentuh bagian-bagian peralatan/system yang bersifat menghantar arus listrik (bagian ini memang dirancang untuk menghantarkan arus listrik, contohnya : kabel, busbar,dll).
B.     Kontak Tidak Langsung

Menyentuh bagian-bagian yang bersifat menghantar (konduktif) namun bukan merupakan bagian yang dirancang untuk menghantarkan arus listrik. Sifat menghantar dari bagian-bagian ini dapat muncul sebagai akibat dari gagalnya isolasi maupun akibat terjadinya gangguan.